its my facebook..
anarllint saputra...
Rabu, 28 Maret 2012
Selasa, 27 Maret 2012
MENGHARGAI KEKURANGAN DIRI SENDIRI
Seorang tukang air memiliki dua tempayan besar, masing-masing
bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan yang dibawa menyilang pada
bahunya. Satu dari tempayan itu retak, sedangkan yang satunya lagi
tidak. Jika tempayan yang tidak retak selalu dapat membawa air penuh
setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, tempayan
yang retak itu hanya dapat membawa air setengah penuh.
Selama dua tahun hal ini terjadi setiap hari, Si tukang air hanya dapat
membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si
tempayan yang tidak retak bangga akan prestasinya karena sudah
melaksanakan tugasnya dengan sempurna. Namun si tempayan yang retak itu
merasa malu akan ketidaksempurnaannya dan merasa sangat sedih karena ia
hanya bisa memberikan setengah porsi yang seharusnya dapat ia berikan.
Setelah dua tahun tertekan akan kegagalan pahit ini, tempayan retak itu
berkata pada si tukang air, “Saya sungguh malu pada diri saya sendiri
dan saya ingin mohon maaf kepadamu.” “Kenapa?” Tanya si tukang air.
“Selama dua tahun ini saya hanya mampu membawa setengah porsi air yang
seharusnya dapat saya bawa karena adanya retakan yang telah membuat air
yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena
cacatku itu, saya telah membuatmu rugi.” Kata tempayan itu. Si tukang
air merasa kasihan pada si tempayan retak dan dalam belas kasihannya ia
berkata, “Jika kita kembali ke rumah majikan kita besok, aku ingin kamu
memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan.”
Benar,
ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru
menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan, dan itu
membuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir perjalanan, ia kembali
sedih karena separuh air yang dibawanya bocor, dan kembali si tempayan
retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya. Si tukang
air berkata pada tempayan retak, “Apakah kamu memperhatikan adanya
bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu sedangkan tak ada bunga di sisi
tempayan yang tidak retak. Itu karena aku selalu menyadari akan cacatmu
dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sisimu,
dan setiap hari ketika kita berjalan pulang dari mata air, kamu
mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik
bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu
sebagaimana kamu ada, majikan kita takkan dapat menghias rumahnya
seindah sekarang.”
Kesimpulan:
Setiap dari kita memiliki
cacat dan kekurangan. Kita semua adalah tempayan retak. Namun jika kita
mau, Allah akan menggunakan kekurangan kita untuk menghiasNya. Di mata
Allah yang bijaksana, tak ada yang terbuang percuma. Jangan takut akan
kekuranganmu. Ketahuilah, didalam kelemahan kita, kita dapat menemukan
kekuatan kita.
Langganan:
Postingan (Atom)