A. Latar Belakang Penelitian
Pembangunan pendidikan nasional Indonesia mendapat pencerahan di
dalam pelaksanaannya sejak disahkannya Undang-Undang No. 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional. Di dalarn Undang-Undang tersebut
dikatakan bahwa visi pembangunan pendidikan nasional adalah terwujudnya
manusia Indonesia yang cerdas, produktif dan berakhlak mulia. Dengan
demikian pendidikan nasional Indonesia meiniliki peranan penting dalam
menentukan masa depan bangsa dan negara Indonesia.
Saat ini, hampir semua segi kehidupan termasuk pendidikan Indonesia
tidak terlepas dari teknologi yang berkembang sangat pesat. Hal ini
mengisyaratkan bahwa untuk kehidupan ekonomi, sosial, politik dan
pendidikan di masa yang akan datang ditentukan kualitas pendidikan yang
dapat menguasai dan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan taraf
kehidupan. Hal ini sesuai dengan Pembukaan UUD 1945 alinea 4 yang
memuat tujuan nasional Indonesia yaitu untuk memajukan kesejahteraan
umum sekaligus untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Dalam rangka mencapai visi pembangunan pendidikan nasional dan
tujuan nasional tersebut, masih banyak hambatan dan masalah yang dihadapi
dunia pendidikan pada umumnya dan pendidikan kejuruan pada khususnya
antara lain banyaknya pengangguran terdidik, kurangnya dana pendidikan dan
masih rendahnya kualitas lulusan. Khusus untuk pendidikan kejuruan memerlukan pengelolaan yang baik, sehingga dapat menghasilkan lulusan
yang berwawasan luas, mempunyai keterampilan dan keahlian yang tinggi,
siap memasuki dunia kerja serta mau mengembangkan sikap profesional.
Dalam pasal 18 Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional dikatakan bahwa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
merupakan bagian dari pendidikan menengah di dalam jenjang pendidikan
formal di Indonesia. Sebagai penjelasannya, di dalam Peraturan Pemerintah
No. 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan
dikatakan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan kejuruan adalah salah
satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan
kejuruan pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs,
atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui
sama atau setara SMP atau MTs.
Fungsi Pendidikan Menengah Kejuruan menurut Peraturan
Pemerintah No. 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan
Pendidikan pasal 76 ayat (2) adalah:
1. Meningkatkan, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai keimanan,
akhlak mulia, dan kepribadian luhur;
2. Meningkatkan, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan
cinta tanah air;
3. Membekali peserta didik dengan kemampuan ilmu pengetahuan dan
teknologi serta kecakapan kejunuan para profesi sesuai dengan kebutuhan
masyarakat;
3
4. Meningkatkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta
mengekspresikan keindahan, kehalusan, dan harmoni;
5. Menyalurkan bakat dan kemampuan di bidang olahraga, baik untuk
kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi; dan
6. Meningkatkan kesiapan fisik dan mental untuk hidup mandiri di
masyarakat dan/atau melanjutkan pendidikan kejenjang pendidikan tinggi.
Dalam penyelenggaraan pendidikan kejuruan, praktek kerja lapangan
sangat diperlukan untuk menunjang kegiatan belajar. Slameto (2003 : 9)
menyatakan bahwa di dalam belajar yang penting bukan mengulangi hal-hal
yang harus dipelajari tetapi mengerti atau memperoleh insight, sifat-sifat
belajar dengan insight tergantung dari pengalaman masa lampau yang relevan
dalam hal ini adalah praktek kerja lapangan. Menurut Bartono (2005 : 7),
praktek kerja lapangan adalah praktek di luar kelas pada suatu instansi yang
sedang beroperasi. Praktek kerja lapangan adalah sebagai upaya penerapan
dan pembandingan antara pekerjaan yang senyatanya dengan teori yang
didapat siswa di dalam kelas sebagai bagian dan kurikulum yang diwajibkan
untuknya. Praktek kerja lapangan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) juga
dikenal dengan sebutan praktek kerja industri (Prakerin).
Untuk mengelola paktek kerja industri (Prakerin), Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK) harus berkomitmen untuk memperhatikan mutu pelaksanaan
Prakerin dalam rangka mendukung kualitas lulusan SMK. Untuk itu yang
perlu diperhatikan adalah pemilihan industri yang menjadi institusi pasangan
SMK dalam Prakerin, pembinaan hubungan antara SMK dan industri tersebut,
4
serta kesesuaian antara keterampilan yang didalami siswa selama Prakerin
dengan kebutuhan dunia industri dalam kehidupan nyata.
Kebijakan yang sesuai dalam pengelolaan Prakerin adalah Link and
Match, yang pada dasarnya konsep Link and Match adalah strategi untuk
meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan terutama kebutuhan
dunia usaha dan dunia industri. Sebagai realisasi kebijakan Link and Match
maka pendidikan menengah kejuruan melakukan perubahan sistem pendidikan
dan perubahan pola pikir, sikap dan nilai pelakunya yaitu dengan
dilaksanakannya pendidikan sistem ganda (PSG).
Pengertian pendidikan sistem ganda menurut Direktorat Pendidikan
Menengah Kejuruan (Anonim, 1995) adalah:
“Suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan keahlian
yang memadukan secara sistematik dan sinkron program pendidikan di
sekolah dan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui
bekerja langsung di dunia kerja, terarah untuk mencapai suatu tingkat
keahlian profesional tertentu”.
Menurut Wena yang dikutip oleh Muhaimin (2005 11) PSG adalah
suatu cara menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan kejuruan khususnya
pada SMK yang memadukan kegiatan belajar di sekolah dan kegiatan belajar
melalui bekerja langsung pada bidang serta suasana yang sesungguhnya dan
relevan di lapangan kerja. Sedangkan menurut Badeai yang dikutip oleh
Susilowati (2005 : 11) PSG adalah salah satu bentuk penyelenggaraan
pendidikan di SMK dan pelatihan industri yang dilakukan secara sistematik
untuk mencapai tingkat yang sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja.
5
Pada pelaksanaannya, Prakerin dalam PSG di SMK membutuhkan
terobosan-terobosan untuk meningkatkan mutu pelaksanaannya. Dan
pelaksanaan Prakerin tersebut diharapkan siswa-siswi dapat memanfaatkan
dengan sebaik-baiknya terutama mengenai ilmu yang akan diperoleh di
lapangan, hasil dari pengembangan teori di sekolah. Tujuan umum yang ingin
dicapai dari pelaksanaan Prakerin tersebut adalah mengurangi kesenjangan
antara profil tenaga kerja output pendidikan dengan kualifikasi tenaga kerja
yang dibutuhkan oleh pasar kerja. Sedangkan manfaat yang diperoleh dari
Prakerin antara lain memperoleh pengalaman tentang tehnik/keterampilan di
dunia usaha atau industri dan sekaligus memperoleh pengetahuan tentang
manajemen industri (Anonim, 2002: 5).
Prakerin yang dilaksanakan ini meliputi:
1. Praktek dasar kejuruan dapat dilaksanakan sebagian di sekolah dan
sebagian lainnya di industri. Praktek dasar kejuruan yang tidak dapat
dilaksanakan di industri karena industri tidak mempunyai fasilitas
penelitian dapat dilaksanakan di sekolah.
2. Praktek kerja industri keahlian produktif dilaksanakan di industri dalam
bentuk “on the job tranning”. Praktek ini berbentuk kegiatan mengerjakan
pekerjaan produksi atau jasa (pekerjaan yang sesungguhnya) di industri
atau perusahaan.
3. Pengaturan program 1 dan 2 harus disepakati pada awal program oleh
kedua belah pihak (Anonim, 2003: 1).
6
Realita yang terjadi saat ini di kalangan lulusan SMK yang telah
menempuh pendidikan sistem ganda adalah bahwa mereka belum mempunyai
kesiapan secara mental untuk masuk dalam dunia kerja. Kesiapan mental
terkait dengan kesadaran seseorang untuk melaksanakan kewajiban yang telah
diberikan dan bertanggung jawab atas tindakan dan kinerjanya. Kesiapan
mental ini harus didukung dengan kemampuan berkomunikasi dengan rekan
kerja dan beradaptasi dengan lingkungan kerja. Hal ini menjadi sebuah
masukan bagi sekolah kejuruan untuk memperbaiki sistem yang ada supaya
lulusan yang dihasilkan semakin siap masuk dunia kerja dan memiliki
kemampuan yang diharapkan oleh industri.
Tidak bisa dipungkiri, dunia pendidikan adalah tahap perencanaan
karier yang ikut menentukan tahap demi tahap peningkatan pribadi seseorang
walaupun secara riil siswa belum melakukan pilihan pekerjaan pada saat yang
bersangkutan memasuki suatu lembaga pendidikan (Handoko, 2000 : 123).
Nilai intrinsik pendidikan yang menumbuh-kembangkan tiap individu secara
optimal sesuai dengan keberadaan dan nilai instrumentalnya berperan dalam
memberikan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan sebagai persiapan
dan intrumen untuk melanjutkan hidup dan kehidupan di tengah masyarakat
(Yusuf, 2002 : 61-62). Apabila nilai yang dimaksud tidak terakomodir dengan
baik, tentunya tiap individu yang mengikuti pendidikan tidak akan
berkembang dengan baik. Akan lebih buruk lagi kalau apa yang diberikan
selama persiapan jauh menyimpang dari dunia kerja.
7
Hal ini juga terjadi di SMK Negeri 4 Klaten di mana sebagian lulusan
jurusan akuntansi belum semuanya diterima di dunia kerja sesuai dengan latar
belakangnya. Secara sekilas para lulusan itu telah bekerja, tetapi dapat
dikatakan sebagian dari mereka bekerja pada bidang yang tidak sesuai dengan
kompetensi yang telah dipelajari di sekolah. Hal ini menunjukkan kurang
efektifnya perencanaan karier yang dilakukan di SMK Negeri 4 Klaten,
meskipun ada faktor lain yang ikut menentukan peningkatan karier seperti
lowongan jabatan di dalam industri. Kurang efektifhya perencanaan karier di
SMK Negeri 4 Klaten tersebut secara tidak langsung mempengaruhi
terpenuhinya prasyarat-prasyarat peningkatan karier seperti prestasi dan
efisiensi lulusan (Handoko, 2000 : 124).
Perencanaan karier yang matang di SMK Negeri 4 Klaten seharusnya
tertuang di dalam program Prakerin yang berbasis mutu. Program tersebut
harus dirancang untuk menjadi wadah bagi siswa untuk memahami kualifikasi
tenaga kerja yang dibutuhkan oleh pasar kerja sehingga mereka menjadi lebih
siap mental untuk memasuki dunia kerja yang sesungguhnya dan membangun
karier yang terbaik. Untuk SMK Negeri 4 Klaten, manfaat Prakerin yang
paling diharapkan dapat diberikan kepada siswa adalah supaya mereka
memperoleh pengalaman tentang tehnik/keterampilan di dunia usaha atau
industri dan sekaligus memperoleh pengetahuan tentang manajemen industri
khususnya tentang ilmu administrasi (Anonim, 2002 : 5).
Dalam penelitian ini SMK Negeri 4 Klaten dipilih menjadi lokasi
penelitian. Penentuan lokasi penelitian dan setting penelitian selain dibingkai
8
dalam kerangka teoritis juga dilandasi oleh pertimbangan teknis operasional.
Untuk itu, lokasi atau setting penelitian dipertimbangkan berdasarkan
kemungkinan dapat tidaknya dimasuki dan dikaji lebih mendalam. Hal ini
penting karena betapapun menariknya suatu kasus, tetapi jika sulit dimasuki
lebih dalam oleh seorang peneliti, maka akan menjadi kerja yang sia-sia
(Bungin, 2007 : 148).
Di samping alasan di atas, untuk menentukan lokasi lapangan
penelitian perlu juga dipertimbangkan segi geografis dan praktis seperti
waktu, biaya dan tenaga. Moleong (2005 : 128) menyatakan bahwa cara
terbaik yang perlu ditempuh dalam penentuan lapangan penelitian adalah
dengan jalan mempertimbangkan teori substantif dan dengan mempelajari
serta mendalami fokus serta rumusan masalah penelitian, untuk itu perlu
memilih lapangan yang sesuai dengan kenyataan. Keterbatasan geografis dan
praktis seperti waktu, biaya dan tenaga perlu dipertimbangkan dalam
penentuan lokasi penelitian.
Berdasarkan faktor-faktor di atas, peneliti memilih SMK Negeri 4
Klaten menjadi lokasi penelitian dengan pertimbangan sebagai berikut:
1. Dari pertimbangan mungkin atau tidaknya dimasuki untuk memperoleh
data yang baik atau informasi yang mendalam bahwa peneliti mempunyai
hubungan yang cukup baik dengan informan terutama Kepala Sekolah dan
sebagian Guru SMK, hubungan yang cukup baik inilah yang
memungkinkan peneliti memperoleh informasi yang mendalam atau data
yang akurat dalam suatu penelitian.
9
2. Dari segi waktu dimungkinkan bahwa peneliti dapat secara leluasa untuk
mengadakan pengumpulan data karena letak geografis yang tidak begitu
jauh antara lokasi penelitian dengan tempat tinggal penelitian yang
didukung dengan sarana transportasi yang mudah.
3. Dari segi biaya bahwa untuk menuju lokasi penelitian tidak membutuhkan
biaya yang tinggi karena letak lokasi penelitian yang cukup dekat atau
tidak begitu jauh.
4. Dari segi tenaga bahwa peneliti tidak perlu mengeluarkan tenaga yang
banyak untuk menuju lokasi penelitian.
5. Dari segi manfaat bahwa lokasi penelitian ini dipilih karena adanya bukti
bahwa lokasi penelitian mempunyai prestasi yang baik dalam hal-hal
tertentu dibandingkan dengan beberapa sekolah lainnya sehingga hasil
penelitian akan membawa manfaat bagi peneliti dalam usaha peningkatan
mutu sekolah.
Suatu penelitian akan dapat bermakna jika suatu penelitian itu dapat
bermanfaat bagi para pembaca dan bagi peneliti itu sendini. Salah satu faktor
yang dapat mempengaruhi bermaknanya suatu penelitian adalah karena
diperolehnya data yang akurat atau diperolehnya informasi yang mendalam
tentang suatu obyek penelitian. Informasi yang mendalam atau data yang
akurat akan diperoleh jika ada hubungan yang baik antara peneliti atau
pengumpul data dengan informan.
10
B. Fokus Penelitian
Berdasarkan pada latar belakang masalah sebagaimana dijelaskan di
atas, maka fokus penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: Bagaimanakah
ciri-ciri pengelolaan praktek kerja industri (Prakerin) yang efektif di Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 4 Klaten?
Sub fokus dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimanakah ciri-ciri pelaksanaan praktek kerja industri (Prakerin) di
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 4 Klaten?
2. Bagaimanakah ciri-ciri organisasi pengelolaan praktek kerja industri
(Prakerin) di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 4 Klaten?
3. Bagaimanakah ciri-ciri hubungan praktek kerja industri (Prakerin) di
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 4 Klaten?
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan fokus penelitian yang telah dikemukakan maka tujuan
penelitian ini adalah: untuk mendiskripsikan ciri-ciri pengelolaan praktek
kerja industri (Prakerin) yang efektif di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
Negeri 4 Klaten.
Sub tujuan penelitian ini meliputi :
1. Untuk mendiskripsikan ciri-ciri pelaksanaan praktek kerja industri
(Prakerin) di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 4 Klaten.
2. Untuk mendiskripsikan ciri-ciri organisasi praktek kerja industri (Prakerin)
di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 4 Klaten.
11
3. Untuk mendiskripsikan ciri-ciri hubungan praktek kerja industri (Prakerin)
di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 4 Klaten.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Manfaat penelitian ini memberikan sumbangan ilmu pengetahuan
yang berkaitan dengan:
a. Ciri-ciri pelaksanaan praktek kerja industri (Prakerin) di Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 4 Klaten.
b. Ciri-ciri organisasi praktek kerja industri (Prakerin) di Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 4 Klaten.
c. Ciri-ciri hubungan praktek kerja industri (Prakerin) di Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 4 Klaten.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini bermanfaat untuk:
a. Kepala Dinas Pendidikan Nasional, sebagai bahan masukan untuk
mengambil kebijakan tentang efektifitas pengelolaan praktek kerja
industri (Prakerin) berbasis mutu di Sekolah Menengah Kejuruan
(SMK) untuk meningkatkan kualitas kelulusan.
b. Kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 4 Klaten, sebagai
dasar untuk mengambil tindakan efektifitas pengelolaan praktek kerja
industri (Prakerin) berbasis mutu di sekolah untuk meningkatkan
kualitas lulusan.
12
c. Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 4 Klaten, sebagai
dasar untuk mengambil tindakan efektifitas pengelolaan praktek kerja
industri (Prakerin) berbasis mutu di sekolah.
d. Komite Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 4 Klaten, sebagai
bahan acuan di dalam pengendalian pelaksanaan efektifitas
pengelolaan praktek kerja industri (Prakerin) berbasis mutu.
e. Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 4 Klaten, sebagai
bahan renungan untuk mengembangkan kemandirian mereka melalui
efektifitas pengelolaan praktek kerja industri (Prakerin) berbasis mutu.
E. Definisi Istilah
1. Praktek kerja industri (Prakerin) adalah salah satu model penyelenggaraan
pendidikan keahlian profesional yang memadukan secara sistematis dan
sinkronisasi antara pendidikan sekolah dan penguasaan keahlian atau
ketrampilan yang diperoleh melalui kegiatan bekerja langsung di dunia
kerja untuk mencapai suatu tingkat keahlian yang profesional sesuai
dengan program studinya dan yang diharapkan dalam profil kemampuan
lulusan SMK.
2. Pengelolaan praktek kerja industri (Prakerin) berbasis mutu adalah segala
bentuk pengelolaan praktek kerja industri (Prakerin) di sekolah kejuruan
dengan tujuan meningkatkan kualitas lulusan.
13
3. Institusi pasangan SMK dalam Prakerin adalah industril perusahaan yang
menjadi rekanan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 4 Klaten
dalam praktek kerja industri (Prakerin).
4. Organisasi pengelolaan praktek kerja industri (Prakerin) adalah struktur
organisasi yang terbentuk di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 4
Klaten untuk mengelola program praktek kerja industri (Prakerin).
5. Fungsi organisasi adalah fungsi setiap jabatan di dalam organisasi program
praktek kerja industri (Prakerin) yang terbentuk di Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK) Negeri 4 Klaten.
6. Kegiatan praktek kerja industri (Prakerin) adalah semua kegiatan yang
dilaksanakan siswa di dalam program praktek kerja industri (Prakerin) di
institusi pasangan SMK dalam Prakerin.
7. Sub fokus penelitian adalah unsur-unsur yang menyusun dan menjelaskan
fokus penelitian.