KabarIndonesia -
Jambi, Bahwa kesiapan mental memasuki dunia kerja sangat penting,
itulah inti yang tersirat dari apa yang disampaikan Wakil Gubernur
(Wagub) Jambi, Drs. H. Fachrori Umar, M.Hum dan Direktur Jenderal
Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja, Myra M.
Hanartani, SH, MA dalam acara Pembukaan Training of Trainer (TOT) bagi
Pengajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Mediator Hubungan
Industrial se Provinsi Jambi, pada Rabu malam (9/2) di Muara Bulian
Room, Hotel Wiltop, Kota Jambi.
Acara ini diselenggarakan oleh
Direktorat Kelembagaan dan Pemasyarakatan Hubungan Industrial dan
Direktorat Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial
Tenaga Kerja Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik
Indonesia, yang ditujukan untuk membekali dan mempersiapkan mindset/pola
pikir dan mental para alumni dan siswa siswi SMK dalam memasuki dunia
kerja.
Kesiapan mental dalam memasuki dunia kerja memang berlaku
untuk semua orang, semua tenaga kerja. Namun, pelatihan ini diadakan
bagi pengajar SMK yang selanjutnya diharapkan dapat meneruskan atau
mentransfer apa yang didapat oleh para pengajar SMK dari pelatihan ini
kepada para siswa dan siswinya, dengan pertimbangan bahwa siswa siswi
SMK dibekali dengan keterampilan untuk (langsung) bekerja pada bidang
tertentu, artinya alumni SMK itu biasanya langsung terjun ke dunia
kerja, tidak seperti alumni SMA yang biasanya melanjutkan pendidikannya
ke jenjang yang pendidikan tinggi sebelum memasuki dunia kerja.
Dalam
sambutannya, Wagub dengan lugas mengatakan menyambut baik
diselenggarakannya pelatihan ini, yang dinilainya sangat strategis,
khususnya dalam kaitannya dengan upaya peningkatan kualitas siswa siswi
SMK dalam meningkatkan daya saing daerah guna pemanfaatan
potensi-potensi yang ada di Provinsi Jambi.
“Sejalan dengan itu,
dalam kaitan dengan pembangunan sumber daya manusia di Provinsi Jambi,
Pemerintah Provinsi Jambi juga sedang menggalakkan peningkatan jumlah
SMK. Penggalakan tersebut akan dilakukan dengan meningkatkan persentase
perbandingan antara jumlah SMK dan SMA, yang juga selaras dengan program
pemerintah. Tentu, tidak hanya peningkatan secara kuantitas yang kita
harapkan, namun akan juga dibarengi dengan peningkatan kualitas SMK.
Dengan demikian, kita berharap lulusan pendidikan sekolah menengah
kejuruan di Provinsi Jambi dapat mudah terserap oleh lapangan kerja yang
tersedia,” tutur Wagub.
Wagub kemudian mnjelaskan tujuan
pendidikan SMK sebagaimana dituangkan dalam Undang-undang Sistem
pendidikan Nasional N0. 20 Tahun 2003, bahwa pendidikan kejuruan
bertujuan mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam
bidang tertentu. Oleh sebab itu, pendidikan SMK memerlukan magang bagi
siswa siswi dalam rangka menambah pengalaman agar lebih siap memasuki
pasar kerja. Hal ini terkait dengan pola pendidikan SMK yang menggunakan
sistem ganda yaitu belajar di sekolah dan belajar di industri.
Namun,
kendala yang kerap ditemui adalah tidak sebandingnya jumlah industri
tempat magang dengan siswa-siswi SMK, yang mana tempat industri sangat
terbatas, terang Wagub.
Sehubungan dengan kendala tersebut, Wagub
meminta setiap industri yang ada di Provinsi Jambi untuk menerima dan
memberikan kesempatan kepada SMK untuk melaksanakan magang, sehingga
melalui kerjasama dan kemitraan SMK dan industri (perusahaan) dapat
menghasilkan lulusan SMK yang berpengetahuan sekaligus memiliki
pengalaman.
Selanjutnya, Wagub menyampaikan pesan kepada para
peserta TOT yang terdiri dari para guru SMK untuk mengikuti pelatihan
ini secara maksimal sebagai wahana yang bertujuan untuk mempersiapkan
SDM berkeunggulan dan bermutu tinggi, khususnya di Provinsi Jambi.
Direktur
Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja,
Myra M. Hanartani, SH, MA memaparkan kondisi ketenagakerjaan di
Indonesia, yang intinya masyarakat Indonesia masih sangat membutuhkan
peningkatan kualitas, baik dalam skill/keterampilan maupun dalam mental
dan karakter.
Myra memaparkan secara singkat permasalahan ketenagakerjaan di Indonesia, yang terdiri dari tiga hal, yaitu :
1. Lapangan kerja yang sangat terbatas
2. Lapangan kerja yang tersedia tidak terpenuhi. Hal ini karena skill yang kurang memadai dari para pelamar kerja
3. Pelaksanaan hubungan industrial belum optimal
Permasalahan
yang ke-3 (pelaksanaan hubungan industrial yang belum optimal) ini lah
yang diupayakan untuk ditanggulangi, salah satunya dengan mengadakan
pelatihan ini, ujar Myra.
Pada kesempatan tersebut Direktur
Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja
memberikan cindera mata berupa buku-buku tenaga kerja kepada Wagub.
Kepala
Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jambi, Raflinur, SH
menyatakan bahwa pelatihan ini merupakan sesuatu yang positif guna
membantu membekali mental dan pola pikir siswa siswi SMK di Provinsi
Jambi dalam memasuki dan menghadapi dunia kerja sembari berharap para
peserta TOT dapat menyerap apa yang diberikan dalam pelatihan ini, untuk
kemudian ditransfer kepada anak didiknya.
Ketua panitia
penyelenggara TOT, Hayani Rumonggan dalam laporannya menyampaikan,
peserta pelatihan ini berjumlah 50 orang, terdiri dari guru-guru SMK se
Provinsi Jambi dan juga dari provinsi-provinsi lainnya di Nusantara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar